Sriwijaya (atau juga disebut Śrīivijaya; Jawa: ꦯꦿꦷꦮꦶꦗꦪ (bahasa Jawa: Sriwijaya); Thai: ศรีวิชัย; Siwichai) adalah
salah satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatra dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan berdasarkan peta membentang
dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa Barat dan kemungkinan Jawa Tengah. Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya"
atau "gemilang", dan wijaya berarti
"kemenangan" atau "kejayaan" maka nama Sriwijaya
bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang".
Bukti
awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta
Tiongkok dari Dinasti Tang, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal
selama 6 bulan. Selanjutnya prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya
juga berada pada abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682.
Kemunduran
pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan
beberapa peperangan di antaranya tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Koromandel, selanjutnya tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya di bawah kendali
kerajaan Dharmasraya. Setelah keruntuhannya, kerajaan ini terlupakan dan
keberadaannya baru diketahui kembali lewat publikasi tahun 1918 dari
sejarawan Prancis George Cœdès dari École française d'Extrême-Orient.
I.
Letak Geografis Kerajaan Sriwijaya
Menurut Prasasti Kedukan Bukit, yang
bertarikh 605 Saka (683 M), Kadatuan Sriwijaya pertama kali didirikan di
sekitar Palembang, di tepian Sungai Musi. Prasasti ini
menyebutkan bahwa Dapunta Hyang berasal dari
Minanga Tamwan. Lokasi yang tepat dari Minanga Tamwan masih diperdebatkan.
Teori Palembang sebagai tempat di mana Sriwijaya pertama kali bermula diajukan
oleh Coedes dan didukung oleh Pierre-Yves Manguin. Selain Palembang, tempat
lain seperti Muaro Jambi (Sungai Batanghari,
Jambi) dan Muara Takus (pertemuan Sungai
Kampar Kanan dan Kiri, Riau) juga diduga sebagai ibu kota Sriwijaya.
Taman
Purbakala Kerajaan Sriwijaya (warna hijau)
terletak di sebelah barat daya pusat kota Palembang. Situs ini membentuk
poros yang menghubungkan Bukit Seguntang dan tepian Sungai Musi.
Berdasarkan observasi
sekitar tahun 1993, Pierre-Yves Manguin menyimpulkan bahwa pusat Sriwijaya
berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan
Sabokingking (terletak di provinsi Sumatra Selatan sekarang), tepatnya
di sekitar situs Karanganyar yang kini dijadikan Taman
Purbakala Kerajaan Sriwijaya. Pendapat ini didasarkan
dari foto udara tahun 1984 yang menunjukkan bahwa situs Karanganyar menampilkan
bentuk bangunan air, yaitu jaringan kanal, parit, kolam serta pulau buatan yang
disusun rapi yang dipastikan situs ini adalah buatan manusia. Bangunan air ini
terdiri atas kolam dan dua pulau berbentuk bujur sangkar dan empat persegi
panjang, serta jaringan kanal dengan luas areal meliputi 20 hektare.
Di kawasan ini ditemukan
banyak peninggalan purbakala yang menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi
pusat permukiman dan pusat aktivitas manusia.
Namun sebelumnya Soekmono berpendapat bahwa
pusat Sriwijaya terletak pada kawasan sehiliran Batang Hari, antara Muara Sabak
sampai ke Muara Tembesi (di provinsi Jambi sekarang), dengan
catatan Malayu tidak berada di
kawasan tersebut. Jika Malayu berada pada kawasan tersebut, ia cendrung kepada
pendapat Moens, yang sebelumnya juga telah berpendapat bahwa letak dari
pusat kerajaan Sriwijaya berada pada kawasan Candi Muara Takus (provinsi Riau sekarang), dengan
asumsi petunjuk arah perjalanan dalam catatan I Tsing, serta hal ini dapat
juga dikaitkan dengan berita tentang pembangunan candi yang dipersembahkan oleh
raja Sriwijaya (Se li chu la wu ni fu ma tian hwa atau Sri
Cudamaniwarmadewa) tahun 1003 kepada kaisar Tiongkok yang dinamakan cheng
tien wan shou (Candi Bungsu, salah satu bagian dari candi yang
terletak di Muara Takus). Poerbatjaraka mendukung pendapat
Moens. Ia berpendapat bahwa Minanga Tamwan disamakan dengan
daerah pertemuan Sungai Kampar Kanan dan Kampar
Kiri, Riau, tempat di mana Candi Muara Takus kini berdiri. Menurutnya,
kata tamwan berasal dari kata "temu", lalu
ditafsirkannya "daerah tempat sungai bertemu". Namun yang pasti
pada masa penaklukan oleh Rajendra Chola I, berdasarkan prasasti Tanjore,
Sriwijaya telah beribu kota di Kadaram (Kedah sekarang).
Akan tetapi, pada tahun
2013, penelitian arkeologi yang digelar oleh Universitas Indonesia menemukan
beberapa situs keagamaan dan tempat tinggal di Muaro Jambi. Hal
ini menunjukkan bahwa pusat awal Sriwijaya mungkin terletak di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi pada tepian
sungai Batang Hari, dan bukanlah di Sungai
Musi seperti anggapan sebelumnya. Situs arkeologi mencakup delapan candi
yang sudah digali, di kawasan seluas sekitar 12 kilometer persegi, membentang
7,5 kilometer di sepanjang Sungai Batang Hari, serta 80 menapo atau
gundukan reruntuhan candi yang belum dipugar. Situs Muaro Jambi bercorak
Buddha Mahayana-Wajrayana. Hal ini menunjukkan bahwa situs tersebut adalah
pusat pembelajaran Buddhis, yang dikaitkan dengan tokoh cendekiawan Buddhis
terkenal Suvarṇadvipi Dharmakirti dari
abad ke-10. Catatan sejarah dari Tiongkok juga menyebutkan bahwa Sriwijaya
menampung ribuan biksu.[butuh
rujukan]
Teori lain mengajukan
pendapat bahwa Dapunta Hyang berasal dari pantai timur Semenanjung Malaya,
bahwa Chaiya di Surat Thani, Thailand Selatan adalah
pusat kerajaan Sriwijaya. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa nama
kota Chaiya berasal dari kata "Cahaya" dalam bahasa Melayu. Ada pula
yang percaya bahwa nama Chaiya berasal dari Sri Wijaya,
dan kota ini adalah pusat Sriwijaya. Teori ini kebanyakan didukung oleh
sejarahwan Thailand, meskipun secara umum teori ini dianggap kurang kuat.
Selain itu, letak geografis
wilayah Kerajaan Sriwijaya juga bias dijelaskan dengan letak Provinsi Sumatera Selatan secara geografis terletak
antara 1 derajat sampai 4 derajat Lintang Selatan dan 102 derajat sampai 106 derajat
Bujur Timur dengan luas daerah seluruhnya 87.017.41 km².Secara geografis
provinsi Sumatera Selatan berbatasan dengan provinsi Jambi di utara, provinsi
Kep. Bangka-Belitung di timur, provinsi Lampung di selatan dan Provinsi
Bengkulu di barat. .Provinsi Sumatera Selatan sejak berabad yang lalu dikenal
juga dengan sebutan Bumi Sriwijaya; pada abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi
wilayah ini merupakan pusat kerajaan Sriwijaya yang juga terkenal dengan
kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Nusantara. Gaung dan pengaruhnya
bahkan sampai ke Madagaskar di Benua Afrika.Sejak abad ke-13 sampai abad ke-14,
wilayah ini berada di bawah kekuasaan Majapahit. Selanjutnya wilayah ini pernah
menjadi daerah tak bertuan dan bersarangnya bajak laut dari Mancanegara terutama
dari negeri China. Pada awal abad ke-15 berdirilah Kesultanan Palembang yang
berkuasa sampai datangnya Kolonialisme Barat, lalu disusul oleh Jepang. Ketika
masih berjaya, kerajaan Sriwijaya juga menjadikan Palembang sebagai Kota
Kerajaan.Menurut Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan pada 1926 menyebutkan,
pemukiman yang bernama Sriwijaya itu didirikan pada tanggal 17 Juni 683 Masehi.
Tanggal tersebut kemudian menjadi hari jadi Kota Palembang yang diperingati
setiap tahunnya.Secara topografi, wilayah Provinsi Sumatera Selatan di pantai
Timur tanahnya terdiri dari rawa-rawa dan payau yang dipengaruhi oleh pasang
surut. Vegetasinya berupa tumbuhan palmase dan kayu rawa (bakau). terdapat bukti barisan yang membelah Sumatera
Selatan dan merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian 900 – 1.200 meter
dari permukaan laut. Bukit barisan terdiri atas puncak Gunung Seminung (1.964
m), Gunung Dempo (3.159 m), Gunung Patah (1.107 m) dan Gunung Bengkuk (2.125m).
Disebelah Barat Bukit Barisan merupakan lereng. Secara administratif Provinsi
Sumatera Selatan terdiri dari 13 (tigabelas) Pemerintah Kabupaten dan 4 (empat)
Pemerintah Kota, dengan palembang sebagai ibukota provinsi. Kecamatan dan Desa / Kelurahan, Provinsi
Sumatera Selatan memiliki 13 Kabupaten, 4 Kotamadya, 212 Kecamatan, 354
Kelurahan, 2.589 Desa. Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi Kabupaten dengan
luas wilayah terbesar dengan luas 16.905,32 Ha, diikuti oleh Kabupaten Musi
Banyuasin dengan luas wilayah sebesar 14.477 Ha.
II.
Sistem Pemerintahan Kerajaan Sriwijaya
Sistem pemerintahan Kerajaan
Sriwijaya adalah Monarki, Monarki (atau Kerajaan)
berasal dari bahasa Yunani monos (μονος) yang
berarti satu, dan archein (αρχειν) yang
berarti pemerintah. Monarki merupakan sejenis pemerintahan yang dipimpin oleh
seorang penguasa monarki.
Monarki atau sistem pemerintahan kerajaan adalah
sistem tertua di dunia. Pada awal kurun ke-19, terdapat lebih 900 tahta kerajaan
di dunia, tetapi menurun menjadi 240 dalam abad ke-20. Sedangkan pada dekade
kedelapan abad ke-20, hanya 40 takhta saja yang masih ada. Dari jumlah
tersebut, hanya empat negara mempunyai penguasa monarki yang mutlak dan
selebihnya memiliki sistem monarki konstitusional.
Masyarakat
Sriwjaya sangat majemuk, dan mengenal stratatifikasi sosial. Pembentukan
satu negara kesatuan dalam dimensi struktur otoritas politik Sriwijaya, dapat
dilacak dari beberapa prasasti yang mengandung informasi penting tentang kadātuan, vanua, samaryyāda, mandala dan bhūmi.
Kadātuan dapat bermakna kawasan dātu, (tnah rumah) tempat tinggal bini hāji, tempat disimpan mas dan hasil cukai (drawy) sebagai kawasan yang mesti dijaga. Kadātuan ini dikelilingi oleh vanua, yang dapat dianggap
sebagai kawasan kota dari Sriwijaya yang di dalamnya terdapat vihara untuk tempat beribadah bagi masyarakatnya. Kadātuan dan vanua ini merupakan satu kawasan inti
bagi Sriwijaya itu sendiri.[butuh rujukan] Menurut Casparis, samaryyāda merupakan kawasan yang berbatasan dengan vanua,
yang terhubung dengan jalan khusus (samaryyāda-patha) yang dapat bermaksud
kawasan pedalaman. Sedangkan mandala merupakan suatu
kawasan otonom dari bhūmi yang berada dalam
pengaruh kekuasaan kadātuan Sriwijaya.[butuh rujukan]
Penguasa
Sriwijaya disebut dengan Dapunta Hyang atau Maharaja,
dan dalam lingkaran raja terdapat secara berurutan yuvarāja (putra mahkota), pratiyuvarāja (putra mahkota kedua) dan rājakumāra (pewaris berikutnya). Prasasti Telaga Batu banyak menyebutkan
berbagai jabatan dalam struktur pemerintahan kerajaan pada masa Sriwijaya.
Menurut Prasasti Telaga Batu, selain diceritakan kutukan raja Sriwijaya kepada
siapa saja yang menentang raja, diceritakan pula bermacam-macam jabatan dan
pekerjaan yang ada pada zaman Sriwijaya. Adapun, jabatan dan pekerjaan
yang diceritakan tersebut adalah raja putra (putra raja yang
keempat), bhupati (bupati), senopati (komandan pasukan), dan dandanayaka (hakim). Kemudian terdapat juga Tuha an watak wuruh (pengawas
kelompok pekerja), Adyaksi nijawarna/wasikarana (pandai besi/
pembuat senjata pisau), kayastha (juru tulis), sthapaka (pemahat), puwaham (nakhoda kapal), waniyaga (peniaga), pratisra (pemimpin kelompok kerja), marsi
haji (tukang cuci), dan hulun haji (budak raja).
Menurut
kronik Tiongkok Hsin Tang-shu, Sriwijaya yang begitu luas dibagi menjadi dua.
Seperti yang diterangkan diatas, Dapunta Hyang punya dua orang anak yang diberi gelar putra mahkota,
yakni yuvarāja (putra mahkota), pratiyuvarāja (putra mahkota kedua). Ahmad Jelani Halimi (profesor
di Universiti Sains
Malaysia) mengatakan bahwa pembagian ini dilakukan untuk mencegah
perpecahan di antara anak-anaknya.
III.
Sosial dan Budaya Kerajaan Sriwijaya
Kehidupan Sosial
Dari berbagai sumber sejarah seperti diungkap
sebelumnya, dapatlah ditafsirkan bahwa kehidupan sosial masyarakat Kerajaan
Sriwijaya mengalami dinamika yang tinggi. Ada saatnya ketika rakyat terlibat
dalam berbagai penaklukkan dan perluasan wilayah Sriwijaya. Kemudian, masa
ketika masyarakat menikmati suasana yang tenang. Terakhir, sebuah masa ketika
masyarakat Sriwijaya mengalami goncangan karena sejumlah penyerangan yang
dilakukan pesaing-pesaing Sriwijaya, baik yang berasal dari Jawa maupun India.
Dalam suasana yang stabil, Sriwijaya dan masyarakatnya tampil menjadi pusat
pengajaran Buddha di kawasan Asia Tenggara. Tersebutlah nama-nama guru besar
agama Buddha, seperti Dharmapala dan Sakyakirti. Dari situ, jelaslah bagaimana
gambaran kehidupan sosial masyarakat Sriwijaya.
Kehidupan Budaya
Tonggak kehidupan budaya masyakarat Sriwijaya
yang sangat dibanggakan adalah pada saat Sriwijaya menjadi pusat pengajaran
ajaran Buddha di Asia Tenggara. Para pendeta yang berasal dari wilayah sebelah
timur Sriwijaya, seperti Cina dan Tibet banyak yang menetap di Sriwijaya.
Tujuan mereka adalah belajar ajaran Buddha sebelum mereka belajar di tanah asal
lahirnya ajaran itu (India). Pada tahun 1011– 1023, datang seorang pendeta
Buddha dari Tibet untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama Buddha di
Sriwijaya. Pendeta itu bernama Atisa dan menerima bimbingan langsung dari guru
besar agama Buddha di Sriwijaya, yaitu Dharmakitri.
Hal lain yang berkaitan dengan itu
ialah mengenai adanya pemberitaan bahwa pada tahun 1006, Raja Sriwijaya,
Sanggrama Wijayatunggawarman mendirikan sebuah wihara di India Selatan, yaitu
di Nagipattana. Wihara ini dilengkapi dengan asrama yang dikhususkan bagi
tempat tinggal para biksu yang berasal dari Sriwijaya yang tengah memperdalam
ajaran Buddha di India. Secara budaya, hal ini jelas menunjukkan bahwa
raja-raja Sriwijaya memiliki perhatian yang besar pada pengembangan budaya dan
pendidikan, khususnya mengenai pendidikan pengajaran agama Buddha.
Dalam bidang kebudayaan khususnya
keagamaan, Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat agama Buddha yang penting di Asia
Tenggara dan Asia Timur. Agama Buddha yang berkembang di Sriwijaya ialah Agama
Buddha Mahayana, salah satu tokohnya ialah Dharmakirti. Para peziarah agama
Buddha dalam pelayaran ke India ada yang singgah dan tinggal di Sriwijaya. Di
antaranya ialah I'tsing.Prasasti Nalanda adalah sebuah prasasti yang berada di
wilayah Nalanda, Bihar, India. Prasasti ini sering disebut sebagai prasasti
Budha kuno dan telah ditemukan sejak tahun 860 masehi. Sementara itu, prasasti
ini menjelaskan tentang Raja Devapaladeva yang berasal dari Bengala, yakni
Kekaisaran Pala dan sudah mengabulkan keinginan Sri Maharaja dari Suvarnadvipa,
Balaputra agar dapat menciptakan suatu biara bagi umat Budha yang berada di
sekitar Nalanda.Isi lainnya dari prasasti
Nalanda adalah Balaputra disebut sebagai anak dari Samaragrawira, yakni
cucu Sailendravamsatikala yang merupakan permata dari keluarga Sailendra dengan
nama Sriviravairimathana, yaitu pembunuh pahlawan musuh.
Selain itu, raja Jawa yang
menikah dengan putri Dharmasetu bernama Tara, serta ditemukan oleh seseorang
yang bernama Hirananda Shastri tahun 1921 di ruang depan dari Biara 1 di
wilayah Nalanda.Namun, sejarawan lainnya menganggap bahwa prasasti ini
mempunyai makna tertentu dimana Raja Dewa Paladewa telah membebaskan 5 buah
desa dari tuntutan pajak demi membiayai mahasiswa Sriwijaya yang tengah
menuntut ilmu di Nalanda, India Timur Laut. Hal ini tentu saja mempunyai
keterkaitan dengan penjelasan lain dimana Sri Maharaja ingin segera diciptakan
biara bagi penganut Budha yang berada di kawasan tersebut.
IV.
Perekonomian
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Sriwijaya Pada awalnya
kehidupan ekonomi masyarakat Sriwijaya bertumpu pada bidang pertanian. Namun dikarenakan
letaknya yang strategis, yaitu di persimpangan jalur perdagangan internasional,
membuat hasil bumi menjadi modal utama untuk memulai kegiatan perdagangan dan
pelayaran.Karena letak yang strategis pula, para pedagang China yang akan ke
India bongkarmuat di Sriwijaya, dan begitu juga dengan pedagang India yang akan
ke China. Dengan demikian pelabuhan Sriwijaya semakin ramai hingga Sriwijaya
menjadi pusat perdagangan se-Asia Tenggara. Perairan di Laut Natuna, Selat
Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Di dunia perdagangan,
Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yakni
dengan penguasaan atas Selat Malaka dan Selat Sunda. Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditas
seperti kapur barus, kayu gaharu, cengkih, pala, kepulaga, gading, emas, dan
timah, yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India. Kekayaan
yang melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari vassal-vassal-nya
di seluruh Asia Tenggara. Dengan berperan sebagai entreport atau
pelabuhan utama di Asia Tenggara, dengan mendapatkan restu, persetujuan, dan
perlindungan dari Kaisar Tiongkok untuk dapat berdagang dengan Tiongkok,
Sriwijaya senantiasa mengelola jejaring perdagangan bahari dan menguasi urat
nadi pelayaran antara Tiongkok dan India.
Karena
alasan itulah Sriwijaya harus terus menjaga dominasi perdagangannya dengan
selalu mengawasi — dan jika perlu — memerangi pelabuhan pesaing di negara
jirannya. Keperluan untuk menjaga monopoli perdagangan inilah yang mendorong
Sriwijaya menggelar ekspedisi militer untuk menaklukkan bandar pelabuhan
pesaing di kawasan sekitarnya dan menyerap mereka ke dalam mandala Sriwijaya. Bandar
Malayu di Jambi, Kota Kapur di pulau Bangka, Tarumanagara dan pelabuhan Sunda
di Jawa Barat, Kalingga di Jawa Tengah, dan bandar Kedah dan Chaiya di
semenanjung Melaya adalah beberapa bandar pelabuhan yang ditaklukan dan diserap
kedalam lingkup pengaruh Sriwijaya. Disebutkan dalam catatan sejarah Champa adanya
serangkaian serbuan angkatan laut yang berasal dari Jawa terhadap beberapa
pelabuhan di Champa dan Kamboja. Mungkin angkatan laut penyerbu yang dimaksud
adalah armada Sriwijaya, karena saat itu wangsa Sailendra di Jawa adalah bagian
dari mandala Sriwijaya. Hal ini merupakan upaya Sriwijaya untuk menjamin
monopoli perdagangan laut di Asia Tenggara dengan menggempur bandar pelabuhan
pesaingnya. Sriwijaya juga pernah berjaya dalam hal perdagangan sedari
tahun 670 hingga 1025 M.
Kejayaan
bahari Sriwijaya terekam di relief Borobudur yaitu menggambarkan Kapal Borobudur, kapal kayu bercadik ganda dan bertiang
layar yang melayari lautan Nusantara sekitar abad ke-8 Masehi. Fungsi cadik ini
adalah untuk menyeimbangkan dan menstabilkan perahu. Cadik tunggal atau cadik
ganda adalah ciri khas perahu bangsa Austronesia dan perahu bercadik inilah yang membawa bangsa Austronesia
berlayar di seantero Asia Tenggara, Oseania, dan Samudra Hindia. Kapal layar bercadik yang diabadikan dalam relief Borobudur
mungkin adalah jenis kapal yang digunakan armada Sailendra dan Sriwijaya dalam
pelayaran antarpulaunya, kemaharajaan bahari yang menguasai kawasan pada kurun
abad ke-7 hingga ke-13 masehi.
Selain
menjalin hubungan dagang dengan India dan Tiongkok, Sriwijaya juga menjalin perdagangan dengan tanah Arab. Kemungkinan utusan
Maharaja Sri Indrawarman yang mengantarkan surat kepada khalifah Umar bin Abdul-Aziz dari Bani Umayyah tahun 718, kembali
ke Sriwijaya dengan membawa hadiah Zanji (budak wanita
berkulit hitam), dan kemudian dari kronik Tiongkok disebutkan Shih-li-fo-shih dengan
rajanya Shih-li-t-'o-pa-mo (Sri Indrawarman) pada tahun 724
mengirimkan hadiah untuk kaisar Tiongkok, berupa ts'engchi (bermaksud
sama dengan Zanji dalam bahasa Arab).
Pada
paruh pertama abad ke-10, di antara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya dinasti Song, perdagangan dengan
luar negeri cukup marak, terutama Fujian, kerajaan Min dan kerajaan Nan
Han dengan negeri kayanya Guangdong. Tak diragukan lagi Sriwijaya mendapatkan keuntungan dari
perdagangan ini.
Pada
masa inilah diperkirakan rakyat Sriwijaya mulai mengenal buah semangka (Citrullus lanatus (Thunb.) Matsum. & Nakai), yang masuk melalui
perdagangan mereka.
V.
Prasasti
1. Prasasti Kota Kapur
Prasasti Kota Kapur merupakan prasasti peninggalan kerajaan
Sriwijaya yang berada di bagian Barat Pulau Bangka. Bahasa yang ditulis pada
prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuno serta menggunakan aksara Pallawa.
Prasasti ini ditemukan sekitar tahun 1892 bulan Desember.
Orang
yang berhasil menemukan prasasti ini adalah J.K. van der Meulen. Prasasti ini
berisi tentang kutukan bagi siapa saja yang membantah perintah serta kekuasaan
kerajaan akan terkena kutukan.
2.
Prasasti Kedukan Bukit
Seseorang bernama Batenburg menemukan sebuah batu tulis yang
berada di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir pada 29 November 1920
Masehi. Ukuran dari prasasti ini adalah sekitar 45 x 80 centimeter serta
ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno.
Prasasti ini berisi tentang seorang utusan kerajaan yang bernama
Dapunta Hyang yang melakukan perjalanan suci atau sidhayarta dengan menggunakan
perahu. Dengan diiringi 2000 pasukan, perjalanannya membuahkan hasil. Saat ini,
prasasti Kedukan Bukit disimpan di Museum Nasional Indonesia.
3.
Prasasti Telaga Batu
Prasasti
ini ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir
Timur II, Palembang. Isi dari prasasti ini adalah mengenai kutukan bagi mereka
yang berbuat jahat di Sriwijaya. Keberadaan prasasti ini sama seperti prasasti
Kedukan Bukit, yaitu disimpan di Museum Nasional Indonesia.
4.
Prasasti Talang Tuwo
Residen
Palembang, yaitu Louis Constant Westenenk menemukan prasasti pada 17 November
1920. Prasasti ini ditemukan di kaki Bukit Seguntang di sekitar tepian utara
Sungai Musi. Isi dari prasasti ini berisi doa-doa dedikasi dan menunjukkan
berkembangnya agama Buddha di Sriwijaya.
Aliran yang digunakan di Sriwijaya adalah aliran
Mahayana yang dibuktikan dengan kata-kata dari Buddha Mahayana seperti
bodhicitta, vajrasarira, dan lain-lain.
5.
Prasasti Ligor
Prasasti yang ditemukan di Thailand Selatan ini memiliki dua
sisi, yaitu sisi A dan sisi B. Pada sisi A menjelaskan tentang gagahnya raja
Sriwijaya. Dalam prasasti tersebut ditulis bahwa raja Sriwijaya merupakan raja
dari segala raja dunia yang sudah mendirikan Trisamaya Caiya bagi Kajara.
Sedangkan
untuk sisi B atau yang disebut prasasti ligor B berisi mengenai pemberian gelar
Visnu Sesawarimadawimathana. Gelar tersebut diberikan kepada Sri Maharaja yang
mana berasal dari keluarga Sailendravamasa.
6.
Prasasti Palas Pasemah
Prasasti Palas Pasemah merupakan prasasti yang berhasil
ditemukan di desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Bahasa yang digunakan pada
prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuno dengan aksara Pallawa serta
tersusun atas 13 baris kalimat.
dari
prasasti ini berisi tentang kutukan terhadap orang yang tidak tunduk pada
kekuasaan Sriwijaya. Diperkirakan, prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi.
Konon, prasasti ini ditemukan di sebuah pinggiran rawa desa.
7.
Prasasti Karang Birahi
Kontrolir L.M. Berkhout menemukan prasasti Karang Birahi pada
tahun 1904 di sekitar tepian Batang Merangin, Jambi. Isi dari prasasti Karang
Birahi juga kurang lebih hampir sama dengan prasasti di poin sebelumnya, yaitu
mengenai kutukan bagi mereka yang tidak tunduk terhadap Sriwijaya.
VI.
Sumber Sejarah
1. Sumber-Sumber Dari Dalam Negeri
Sumber dari dalam negeri berupa Prasasti yang berjumlah 6
buah yang menggunakan bahasa Melayu Kuno dan huruf Pallawa, serta telah
menggunakan angka tahun Saka. a. Prasasti Kedukan Bukit di temukan di
Kedukan Bukit, di tepi sungai Talang dekat Palembang berangka tahun 605 Syaka
atau 683 M. Isi dari Prasasti ini menceritakan tentang perjalanan suci/sidayata
yang dilakukan Dapunta Hyang, berangkat dari Muaratamwan dengan membawa tentara
sebanyak 20.000 orang, dan dari perjalanannya itu berhasil menaklukkan beberapa
daerah. b. Prasasti Talang Tuo ditemukan di sebelah barat kota Palembang
berangka tahun 606 Syaka/684M. Prasasti ini berisi tentang pembuatan Taman
Sriksetra untuk kemakmuran semua makhluk dan terdapat doa-doa yang bersifat
Budha Mahayana.c. Prasasti Telaga Batu di temukan di Telaga Batu dekat
Palembang berangka tahun 683 M. d. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Kota
Kapur (di Pulau Bangka) berangka tahun 608 Syaka/686M. e. Prasasti Karang
Berahi ditemukan di Jambi, tidak memiliki berangka tahun. f. Prasasti
Palas Pasemah ditemukan di Lampung Selatan, tidak memiliki berangka
tahun.
2. Sumber-Sumber Dari Luar
Negeri
a. Prasasti Ligor ditemukan di Semenanjung Melayu
berangka tahun 775M yang menjelaskan tentang pendirian sebuah pangkalan di
Semenanjung Melayu, daerah Ligor.
b. Prasasti Nalanda ditemukan di India di kota
Nalanda yang berasal dari abad ke 9 M. Prasasti tersebut menjelaskan pendirian
Wihara oleh Balaputradewa raja Sriwijaya.
3. Sumber Berita Asing
a. Berita Cina- Catatan perjalanan I-Tsing seorang
pendeta Cina yang sering datang ke Sriwijaya sejak tahun 672 M, yang
menceritakan bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 orang pendeta yang menguasai
agama seperti di India.- Berita dari dinasti Sung yang menceritakan tentang
pengiriman utusan dari Sriwijaya tahun 971-992M.
b. Berita Arab, Sriwijaya disebut dengan Zabag/Zabay
atau dengan sebutan Sribuza. Dari berita-berita Arab dijelaskan tentang
kekuasaan dan kebesaran serta kekayaan Sriwijaya.
VII.
Sumber
Sosbud = Perekonomian = http://ipsgampang.blogspot.com/2015/04/keadaan-politik-sosial-ekonomi-politik.html?m=1









Tidak ada komentar:
Posting Komentar